Mengatasi Radikalisme Dengan Ajaran Moderat Walisongo
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), radikalisme berarti (1) paham atau aliran yang radikal dalam politik; (2) paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; (3) sikap ekstrem dalam aliran politik (Bahasa 2008, 1130). Radikalisme tidak bisa dilabelkan hanya kepada Islam, karena radikalisme bisa menjangkit pada sector apapun dalam kehidupa manusia baik ekonomi, politik, problem sosial dan lain sebagainya tak terkecuali agama
Masalah
radikalisme dalam Islam yang masuk melalui lingkungan pendidikan fomal sepeti
di sekolah maupun peguuan tinggi merupakan masalah yang sangat menarik. Munculnya
kasus-kasus kekerasan dan terorisme mengatasnamakan agama tersebut
dilatarbelakangi oleh fenomena fanatisme keagamaan yang sempit sebagai dampak
dari meluasnya gerakan radikalisme Islam. Salah satu pintu masuk paham atau
pemikiran radikal ke Indonesia yaitu melalui aktifitas pendidikan dimana mayoritas
pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri, terutama dikawasan Timur Tengah.
Yang amat
disayangkan adalah pemahaman-pemahaman yang mereka dapatkan lantas ditelan
bulat-bulat, dan memaksakan untuk diaplikasikan ke dalam sebuah sistem
kehidupan masyarakat Indonesia yang amat berbeda dengan kehidupan di timur
tengah tempat mereka belajar. Hal inilah yang menjadikan paham radikal menjadi
sangat masif dan berkembang luas di Indonesia. Dan yang paling tekenal dalam
hal ini adalah faham radikalis dari
kelompok HTI yang terkenal dengan sikap mengkafir-kafiri orang lain dan
memiliki pemahaman ekstrim tentang jihad.
Dalam
mendakwahkan maksud dan tujuannya mereka menawarkan ideologi-ideologi mereka
dengan menggunakan cara kekerasan dan menampilkan aksi-aksi yang dapat
merugikan banyak orang. Akan tetapi selain itu, mereka juga menggunakan cara
yang halus bahkan hampir tidak kelihatan, yaitu dengan masuk ke dalam
lembaga-lembaga pendidikan, baik lembaga formal maupun nonformal. Radikalisme
dalam agama ibarat pisau bermata dua, di satu sisi, makna positif dari
radikalisme adalah spirit menuju perubahan ke arah lebih baik yang lazim
disebut ishlah (perbaikan) atau tajdid (pembaharuan). Dengan begitu radikalisme
tidaklah bisa disamakan dengan ektrimitas atau kekerasan, ia akan sangat
bermakna apabila dijalankan melalui pemahaman agama yang menyeluruh dan
diaplikasikan untuk ranah pribadi.
Terkait dengan
masalah radikalisme yang marak menyerang generasi muda zaman sekarang ini,
marilah kita flashback sejenak tentang masa awal islam masuk di Indonesia.
Islam masuk di Indonesia, lebih spesifiknya di pulau jawa adalah melalui para
walisongo. Bagaimana peran ajaran walisongo untuk menangkal paham-paham
radikalisme di Indonesia?
Banyak pihak
mengatakan Walisongo terlalu mengandalkan kebudayaan dalam kiprahnya. Namun, dapat
dipastikan penggunaan kebudayaan tidak bermasalah, karena tidak ada dikotomi
antara budaya dengan agama. Dalam Islam ada pemahaman bersama, bahwa adat di
tengah masyarakat, bisa menjadi salah satu sumber positif.
Apa yang
diajarkan Walisongo berdampak sampai saat ini, karena di Indonesia tidak ada
luka warisan antargenerasi sebagai dampak dari penyebaran agama. Cara-cara
moderat yang dilakukan para Wali, terbukti ampuh menyebarkan Islam secara
damai.
Model dakwah
secara moderat dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan inilah yang
patut untuk ditiru agar kemurnian spirit agama bisa terus terjaga dengan baik. Walisongo
tidak pernah mendakwahkan ajaran islam dengan kekerasan, yang jelas hal ini
malah akan menimbulkan dendam pada suatu kaum di masa mendatang. Hal ini sangat
bertentangan dengan alliran radikalisme yang sangat mengandalkan ketegasan
bahkan kekerasan dalam praktiknya.
Dari itu semua
marilah kita sebagai generasi islam muda Indonesia menghindari segala hal yang
dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa ini, salah satunya
radikalisme itu sendiri dengan meneladani cara berdakawah walisongo yang
memilih membaur dengan masyrakat dan menyebarkan ajaran dengan cara yang
moderat.
Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan bijak.